Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENGUNGKAP SEJARAH PANJANG PERDAGANGAN KAIN BATIK DI NUSANTARA DAN ASAL MUASALNYA

 

Potret Kerajinan (Industri) di Jokjakarta yang diselenggarakan dari tanggal 24 hingga 30 September 1925. Pameran industri ini sukses dengan banyak hasil kerajinan masyarakat seperti produk tenun, batik, pembuatan tali, anyaman, ukiran kayu, gerabah, dan olahan minyak, juga hasil kerajinan tangan dari tunanetra. Potret Tahun 1925. 


Perkembangan sejarah Batik tentu menarik perhatian kita untuk melihat perkembangan batik di Indonesia baik di masa kini maupun di masa lampau. Abad ke-21 ini banyak terdapat corak-corak khas batik yang dihasilkan dari berbagai wilayah di Nusantara. Ada batik Jawa, ada Batik Bali, Ada batik Kalimantan, sampai ujung timur Indonesia ada Batik Papua yang terkenal. 

Pulau Jawa merupakan salah satu pusat peradaban yang sejak lama telah memberi warna sejarah Nusantara dalam berbagai bidang seni, arsitektur, industri,  politik, dan dunia tekstil salah satunya adalah perkembangan batik yang pesat di pulau ini. 

Kapan orang Indonesia mulai mengenal batik? Batik di Indonesia mengalami banyak evolusi dari zaman ke zaman. Ada banyak pendapat tentang asal muasal batik. Ada yang mengatakan berasal dari India, berasal dari China, ada juga yang mengatakan berasal dari Nusantara alias merupakan produk asli pribumi Indonesia. 

Untuk memahaminya, kita perlu melihat asal usul kata batik itu. Jika menilik istilah kata "batik", kata ini tidak berasal dari bahasa Sangsekerta, tidak berasal dari Arab, tidak berasal dari bahasa China, dan tidak berasal dari bahasa Eropa seperti Portugis, dan Belanda. Apa artinya? Itu berarti sebelum  masuknya peradaban-peradaban baru dari bangsa asing, masyarakat Indonesia sudah mengenal dunia perbatikan tradisional ini nampak dari nama "batik" itu sendiri. 

Darimana asal muasal kata "batik"? kata batik berasal dari bahasa Melayu-Polinesia (Austronesia), bahasa yang dituturkan oleh sebagian besar masyarakat nusantara yang berasal dari berbagai etnik dan suku. Kata batik ini juga dapat ditemui pada suku-suku lain di Indonesia. Misalnya, Suku Biak di zaman lampau menyebut “fasik” yang berasal dari kata “fas”:tulis dan sik:garis.  Dialek lain dari bahasa Biak disebut “watik” atau wasik dalam dialek Biak lainnya”. “sik” atau “tik” merupakan kosakata Austronesia purba yang telah berkembang di kepulauan Asia Tetanggara.

Potret Produsen Batik Tee Boen Kee, Jokjakarta 1920, KILT


Pada abad ke-5 sejarah Dinasti Liang (502-557 M) memberitahukan tentang masyarakat Nusantara. Dinasti Liang mencatat pada tahun 500-an bahwa, "Raja Bali memakai secarik kain sutra bermotif bunga yang membalut seluruh tubuhnya, bertopi keemasan agak tinggi dan dihiasi batu-batu mulia"-Liang Shu, Bab 5 dalam Tan Ta Sen, Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara, 2010, hal. 192

Ornamen-ornamen batik juga ditemukan pada arca-arca dan relief di pulau Jawa pada candi Hindu dan Buddha. Prasasti Balitung (Mantyasih) tahun 827 M menyebut kain yang disebut bebet”. Candi Prambanan yang telah selesai pada 856 M, memperlihatkan patung-patung yang memakai kain (selempang) dengan bermotif bunga. Ornamen-ornamen geometris banyak menghiasi relief dan arca yang hingga kini masih dapat ditemukan pada batik moderen. Selain itu, banyak dari prasasti-prasasti di Jawa menyebut tentang batik. Pada Prasasti Jurungan tahun 876 M disebutkan mengenai “wdihan” dari beberapa jenis warna yang merujuk pada pakaian atau kain dalam bahasa Jawa Kuno.

Pada 992 M, Kerajaan di Jawa mengekspor kain ke Kaisar Tiongkok  sebagai upeti “Hadiah yang dikirim oleh raja berupa gading, mutiara, sutra yang disulam dengan bunga dan emas, sutra berbagai warna, kayu cendana dan barang katun dalam berbagai warna" (Groeneveldt 1960, pp. 63-78)

Menurut Kitab Pararaton, Raden Wijaya yang memerintah pada 1293-1309 di Kerajaan Majapahit itu, menghadiahi para pejuang dengan memberikan kain bermotif gringsing. Kitab Tantri Kamandaka menyebut kain bermotif ranga (kain bermotif bunga). Kemungkinan besar, motif ranga inilah yang disebut oleh catatan dinasti Liang mengenai “kain sutra bermotif bunga” yang dikenakan Raja Bali pada abad ke-5.

Menurut hasil penelitian seorang arkeolog Belanda, J.L. A. Brandes bahwa batik merupakan warisan leluhur orang Nusantara. F. A. Sutjipto pun demikian bahwa batik merupakan tradisi asli suku-suku yang mendiami Nusantara seperti orang Papua, Toraja, Flores, dan suku-suku lainnya. Batik sejak lama terkenal akan produksi kain katun berkualitas dengan ornamen-ornamen ciri khas batiknya. Dalam Exposition Generale Des Produits De L'industrie Nationale a Bruxelles, (1830) menyebut tentang produksi batik nama-nama motif batik.  

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya Geschiedenis van Java (1836) bahwa setidaknya ada 30 profesi yang digeluti oleh masyarakat di pulau Jawa salah satunya adalah "Toekang batik" atau dalam bahasa Belanda "Katoendrukker". Johannes Jacobus de Hollander, dalam bukunya Handleiding bij de beoefening der land- en volkenkunde van (1861) juga menyebut tentang Batik. 

Posting Komentar untuk "MENGUNGKAP SEJARAH PANJANG PERDAGANGAN KAIN BATIK DI NUSANTARA DAN ASAL MUASALNYA "